Saturday 29th August 2015

  • Awas, Hati Hati Membedaki Bayi, Kesalahan Membedaki Bisa Menyebabkan Bayi Terganggu

    Awas, Hati Hati Membedaki Bayi, Kesalahan Membedaki Bisa Menyebabkan Bayi Terganggu

    Membalurkan bedak pada tubuh bayi membuat terasa lembut dan wangi. Beragam merek produk beredar di pasaran, sehingga banyak pilihan sesuai keinginan dan harganya. Tapi ternyata kebiasaan ini sangat dilarang oleh pakar kesehatan. Karena dipercaya bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada bayi. Agar bayi tidak menderita gangguan tertentu, maka sangat tepat untuk hati hati membedaki bayi. Apa sebenarnya efek buruk dari pemakaian bedak pada bayi dan cara pencegahannya?

    Partikel Bedak Bisa Mengganggu Sistem Pernafasan

    Pemberian bedak yang tidak tepat, seperti menaburkannya di seluruh tubuh hingga ke areal wajah dan mendekati hidung dan mulut memang dapat memicu gangguan pada pernafasan bayi. Karena partikel bedak yang teksturnya sangat halus kemungkinan bisa terhirup dan menimbulkan bahaya. Mungkin orang tua tidak sadar kalau kalau buah hatinya kerap mengalami pilek dan batu yang sulit disembuhkan, bisa jadi kondisi tersebut dipicu oleh cara pemakaian bedak yang keliru.

    Dokter bayi di Amerika Serikat sangat melarang orang tua memberikan bedak pada bayi. Karena bedak terbukti bisa memicu terganggunya paru-paru hingga tahapan serius. Kondisi ini akan menimpa bayi, kalau partikel dari bedak terbawa hingga ke dalam organ paru-parunya. Resiko bedak ini diawali dari reaksi inflamatori paru-paru hingga serangan penyakit seperti pneumonia yang sangat berat. Sekarang ini memang mudah dijumpai beragam jenis bedak yang diolah dari tepung jagung. Karena bahan tersebut dinilai lebih aman. Tapi besar kemungkinan juga bisa dihirup oleh bayi.

    Cara Pemakaian Bedak Yang Tepat

    Bedak tetap Sebenarnya bedak bayi memang sangat bermanfaat dalam perlindungan kulit bayi agar tetap terasa kering. Dengan begitu bisa terhindar dari serangan biang keringat dan peradangan karena pergesekan antara kulit. Jadi yang perlu diperhatikan adalah cara pemakaian bedaknya. Ketika menuang bedak jaga jaraknya, sehingga tidak terlalu dekat dengan tubuh bayi. Karena partikel bedak akan lebih mudah terbang dan dihirup oleh bayi.

    Jangan juga menggunakan kapas dalam mengusapkan bedak ke kulit bayi. Karena kapas bisa mengakibatkan bedak akan semakin mudah untuk berterbangan. Lebih baiknya adalah sebelum mengusapkan bedak ke tubuh bayi, usapkan dahulu ke tangan orang tuanya. Setelahnya bisa diusapkan dengan merata ke semua tubuh bayi.

    Partikel bayi yang begitu halus mirip debu sehingga gampang berterbangan. Kalau sampai terhisap oleh bayi, makan beresiko besar mengganggu sistem pernafasan bayi dan mudah memicu pilek dan batuk. Jadi keluhan kesehatan bayi ini bukan diakibatkan karena riwayat penyakit pernafasan yang diderita orang tuanya. Bayi normal yang sehat juga bisa mengalaminya dan bisa dipicu oleh pemakaian bedak yang salah.

    Cara Memilih Bedak Bayi Yang Benar

    Cara paling penting adalah memperhatikan tekstur bedaknya dan cocok dengan kulit buah hati Anda. Kalau setelah diusapkan bedak, kulitnya menjadi gatal dan muncul bintik merah bisa menjadi pertanda bedak tidak cocok bagi kulit bayi Anda. Jadi harus segera menghentikan pemakaiannya dan menggantinya dengan produk lainnya. Jadi jangan memilih bedak berdasarkan wanginya saja.

    Read more
  • Ternyata Ahli Kesehatan Melarang Bayi Menggunakan Bantal ..Mengapa?

    Ternyata Ahli Kesehatan Melarang Bayi Menggunakan Bantal ..Mengapa?

    Ingin memberikan segala yang terbaik untuk buah hati pastinya dilakukan semua orang tua. Salah satunya memberikan tempat tidur yang nyaman, termasuk bantal yang empuk bagi bayi. Tapi ternyata para ahli kesehatan melarang bayi menggunakan bantal. Dilansir dari Boldsky, banyak ahli kesehatan memiliki pendapat tersendiri mengenai dampak buruk penggunaan bantal oleh bayi. Mereka menegaskan kalau bayi tidak membutuhkan bantal ketika tidur, hingga usianya mencapai satu tahun. Apa alasannya? Bayi Kesulitan Bernafas Penggunaan bantal oleh bayi mengakibatkan sulit untuk bernafas. Karena bantal bisa membatasi gerakan bayi ketika sedang tertidur. Sehingga kondisi tersebut bisa menyebabkan bayi merasa tidak nyaman dan juga sulit bernafas. Apalagi kalau bantal yang digunakan terlalu tinggi atau ukuran bantal lebih besar daripada ukuran tubuh bayi. Penyerapan Keringat Tidak Optimal Gerakan bayi akan sangat terganggu, saat bayi menggunakan bantal saat tidur dan juga mengakibatkan penyerapan keringat tidak optimal. Dengan begitu kondisi bantal akan sangat lembab dan lama keringnya. Sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan kulit bayi. Iritasi kulit, biang keringat dan keluhan kulit lainnya bisa saja diderita oleh bayi. Padahal kulit bayi sangat sensitif, sehingga mudah mengalami permasalahan kulit tersebut. Bahaya Flat Head Syndrome Rentan Menyerang Bayi Flat Head Syndrome atau sindrom kepala datar adalah bahaya yang bisa menyerang bayi yang menggunakan bantal. Kondisi ini dikarenakan bayi tidak dapat bergerak dengan leluasa, karena hanya diam pada satu tempat saat. Bantal akan mengganjal pergerakan kepalanya, dengan begitu sindrom ini berpotensi besar dialami bayi. Saat masih bayi memang bayi tidak memerlukan ganjalan bantal saat tidur. Tapi terkadang orang tua takut kalau kepala bayi menjadi peang dan beresiko terserang infeksi telinga. Penggunaan bantal terkadang juga diterapkan untuk menghindari anak mengalami Suddently Infant Death Syndrome (SIDS). Memang ada bayi yang terlihat nyaman ketika menggunakan bantal dan ada juga yang merasa tidak nyaman. Memang ada juga ahli yang menyarankan pemakaian bantal yang rata dan bantal yang berlubang di bagian tengahnya. Tujuannya agar posisi bayi tidak tengkurap saat sedang tidur. Karena posisi tidur tersebut bisa memperbesar resiko bayi mengalami SIDS. Para pakar di Wake Forest University Medical Center yang berada di North Carolina memang pernah mempublikasikan penemuannya di Journal of Craniofacial Surgery pada bulan September 2009, ditemukan anak dengan kepala datar parah atau plagiocephaly posisional dan sebanyak 50 persennya menderita infeksi telinga. Tapi EBM atau Evidence Base Medicine menegaskan kalau penelitian tersebut kurang akurat, karena hanya mengandalkan kuesioner saja. Jadi hasil penelitian tersebut tidak direkomendasikan untuk diterapkan atau menjadi pedoman dalam merawat bayi. Jadi sebaiknya biarkan bayi tidur tanpa memberikannya bantal.

    Read more
  • Pentingnya Kesehatan Emosional Ibu dalam Mengasuh Anak

    Pentingnya Kesehatan Emosional Ibu dalam Mengasuh Anak

    Mengasuh anak memang tidak bisa sembarangan, bahkan kondisi kesehatan emosional yang terganggu bisa juga berpengaruh kepada perilaku anaknya. Kalau sang ibu sedang mengalami depresi, maka perilaku baik anak ikut berubah. Kenapa kondisi kesehatan emosional ibu dalam mengasuh anak sangat penting?

    Penelitian Dilakukan Pada Balita Hingga Beranjak Remaja

    Sebuah studi membuktikan arti pentingnya kesehatan emosional ibu saat mengasuh anaknya. anak-anak usia hingga 12 tahun yang diasuh oleh ibu yang mengalami depresi akan memiliki perilaku buruk saat beranjak remaja. Gemar mengkonsumsi minuman beralkohol dan menjadi pecandu narkoba adalah perilaku buruk yang kerap dijumpai.

    Dalam penelitian tersebut melibatkan sekitar 3000 anak, sebelumnya mereka telah terlibat dalam studi ini sejak masih balita. Dalam dua tahun sekali, kuesioner khusus harus diisi oleh ibunya berkaitan dengan kesehatan mental dan fisiknya, termasuk kesehatan buah hatinya. Setelah anak-anak itu beranjak berusia 10 hingga 11 tahun, baru akan mengisi kuesionernya sendiri.

    Isi dari kuesioner tersebut, salah satunya adalah apakah anak-anak tersebut melakukan kebiasaan yang beresiko tinggi, seperti lari dari rumah, membawa senjata, merokok, kecanduan narkoba dan mengkonsumsi minuman keras. Dengan berbagai pertanyaan kuesioner ini, maka peneliti bisa melakukan pemantauan mengenai perkembangan mereka.

    Peneliti menemukan kalau anak-anak yang ibunya mengalami depresi, sangat berpengaruh besar pada tindakan mereka yang sangat beresiko. Ian Colman, peneliti dari Universitas Ottowa yang berada di Ontario menegaskan kalau pengaruh dari depresi orang tuanya ini berhubungan dengan efek jangka panjang ketika anak tersebut beranjak remaja. Depresi ibu saat masih mengandung hingga anak tersebut lahir tetap berefek buruk pada kesehatan mental anak setelah remaja.

    Peneliti menjelaskan kalau usia anak-anak merupakan periode meningkatkan kemampuan kognitif, emosional dan juga perkembangan sosial. Usia anak akan dimulai dengan bersekolah, meningkatkan kemampuan berbahasa dan berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Kalau anak-anak diasuh oleh ibu yang mengalami depresi atau berperilaku buruk, maka sangat berbahaya bagi perkembangan anak.

    Cara Mengatasi Depresi

    Berbagai gejala depresi bisa mudah dikenali dari perilaku yang muncul pada seseorang. Gejala tersebut adalah seakan tidak mempunyai harapan hidup di masa depan, hasrat seksual hilang, frustasi, mudah marah, stress, sulit tidur, nafsu makan berkurang atau bahkan bertambah, mudah letih, stamina rendah dan duka berkepanjangan. Tekanan hidup yang dirasanya sangat berat bisa menjadi penyebab utama seseorang mengalami depresi.

    Untuk mengatasi kondisi depresi pada ibu, sebaiknya berkonsultasi dengan spesialis. Nasihatnya sangat bermanfaat bagi penanganan kondisi depresi yang dialami ibu yang sedang hamil dan juga mengasuh buah hatinya. Pengobatan mungkin juga perlu dilakukan yang tujuannya guna memperbaiki pola pikir yang menyebabkan depresi. Pola pikir memang sangat penting dalam mengatasi depresi secara efektif.

    Read more

Top